Beberapa faktor yang mempengaruhi mutu dan citarasa kopi antara lain genetis bahan tanam, lingkungan tempat tumbuh tanaman kopi, pemanenan, metode pengolahan dan fermentasi, metode penyangraian (roasting) dan metode penyeduhan.
Genetis
bahan tanam akan mempengaruhi mutu fisik dan profil citarasa kopi dikarenakan
keragaman kandungan kimia dalam biji kopi salah satunya dipengaruhi oleh bahan
tanam yang digunakan. Hal ini dikarenakan
untuk masing-masing kultivar akan berbeda dalam hal ukuran biji beras,
kandungan kafein dan profil citarasa.
Faktor
lingkungan yang berupa kondisi lahan dan iklim sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan, produksi, mutu dan citarasa kopi.
Kondisi lahan yang berpengaruh terhadap mutu dan citarasa kopi adalah
ketinggian tempat dan tanah, sedangkan faktor iklim yaitu curah hujan, radiasi
matahari, suhu udara dan kelembaban udara.
Pada kopi arabika semakin tinggi suatu tempat, semakin baik mutu dan
citarasa yang dihasilkan, hal ini dikarenaka semakin tinggi tempat penanaman
kopi arabika maka kandungan protein, kafein dan lemak kopi semakin
meningkat. Ketinggian tempat juga akan
mempengaruhi buah kopi lambat masak sehingga pembentukan biji kopi dengan
karakter aroma dan citarasa yang dihasilkan akan lebih baik. Selain itu ketinggian tempat juga
mempengaruhi ukuran dan berat biji kopi, dimana presentase biji normal dan
berat 100 biji akan semakin meningkat dengan bertambahnya ketinggian tempat
penanaman.
Mutu
dan citarasa kopi juga akan dipengaruhi oleh budidaya khususnya pengaturan
naungan. Naungan ini difungsikan untuk
mengurangi intensitas cahaya marahari.
Dimana intensitas matahari yang sedang akan memberikan citarasa kopi
yang lebih baik. Citarasa kopi akan
lebih baik pada penggunaan naungan dengan intensitas cahaya yang diteruskan
sebesar 50 – 65%.
Pemanenan
juga akan mempengaruhi mutu dan citarasa kopi.
Pemanenan biasanya dilakukan apabila buah kopi telah matang secara
fisiologi yang ditandai terjadinya perubahan warna pada kulit buah kopi menjadi
merah tua. Perubahan warna kulit buah
akan mempengaruhi aroma dan kekentalan dari kopi yang dihasilkan dimana kulit
buah yang masih hijau akan menghasilkan aroma yang kurang mantap bahkan
kadangkala timbul citarasa winey (asam
alkohol) dan grassy serta kekentalan
yang sangat encer. Sebaliknya untuk buah
kopi yang dipanen pada saat kulit berwarna merah akan menghasilkan aroma dan
kekentalan sesuai yang diharapkan. Akan
tetapi apabila memanen kopi pada saat kulit buah berwarna merah tua akan
menghasilkan kopi dengan citarasa earthy
dan fermented (bau busuk).
Faktor
lainnya yang mempengaruhi mutu dan citarasa kopi adalah metode pengolahan dan
fermentasi. Proses fermentasi merupakan
proses pembentukan calon (prekusor) citarasa seperti gula-gula pereduksi, asam
amino dan peptide yang merupakan hasil dari perombakan/pemecahan karbohidrat,
protein dan lemak pada biji kopi. Pemanenan
terhadap buah kopi matang fisiologis akan menghasilkan biji kopi dengan mutu
dan citarasa yang lebih baik apabila diolah dengan menggunakan fermentasi basah
atau natural honey.
Metode
penyangraian (roasting) dan metode
penyeduhan juga akan mempengaruhi mutu dan citarasa. Penyangraian akan mengubah biji kopi mentah
yang tidak enak menjadi minuman dengan aroma dan citarasa lezat. Proses penyangraian sangat dipengaruhi oleh
keseragaman dalam ukuran biji kopi, tekstur dan kadar air dan struktur kimia
yang berbeda pada masing-masing jenis kopi.
Metode penyeduhan juga akan meningkatkan aroma kopi pada saat
diseduh. Proses penyangraian (roasting) dan penyeduhan akan memberikan
citarasa yang baik jika dilakukan secara tepat untuk itu keterampilan dan
pengalaman sangat diperlukan agar dapat memenuhi permintaan konsumen.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar